Oleh: Jaharuddin

Dosen Ekonomi Islam FEB UMJ

 

“Wahai Rasulallah, apakah kita (harus) berobat?” Beliau saw. menjawab: “Iya benar. Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidaklah meletakkan suatu penyakit kecuali Dia letakkan pula penawarnya atau obatnya, kecuali satu penyakit”. Para sahabat pun bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah yang satu penyakit itu?” Beliau menjawab: “Tua renta”. dalam redaksi yang lain: kecuali “Syam”, yaitu kematian. (Riwayat lbn Majah, Abu Dawud, dan al-Tirmidzi yang juga mensahihkannya).

 

Seorang muslim dianjurkan untuk berobat, dan berobat adalah kebutuhan dasar setiap orang. Muncul pertanyaan seputar pengobatan, diantaranya apakah diperbolehkan berobat dengan obat-obat yang materialnya berasal dari benda atau binatang yang tidak halal?, apakah seorang muslim diperbolehkan untuk berobat ke rumah sakit non muslim?, apakah rumah sakit yang ada “label” Islamnya otomatis syariah?, apakah rumah sakit yang nama rumah sakitnya mengunakan kata-kata yang berkonotasi Islam otomatis rumah sakit syariah?, apakah diperbolehkan dokter laki-laki/perempuan memeriksa pasien lawan jenis?, bagaimana penghormatan terhadap harga diri pasien seperti etika pakaian?, dan berbagai pertanyaan masyarakat seputar proses pengobatan.

 

Masyarakat membutuhkan informasi yang lengkap dan akurat, sehingga masyarakat menjadi nyaman dan tentram untuk berobat. Karakter dasar Islam adalah solutif, artinya jika Islam melarang maka terkandung di dalamnya kemudharatan baik yang sudah diketahui maupun yang belum diketahui, dan saat yang sama Islam mempunyai alternatif solusi.

 

Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Rumah sakit syariah merupakan rumah sakit yang seluruh aktivitasnya berdasar pada Maqashid al Syariah al Islamiyah. Hal ini sesuai dengan konsep maqashid syariah menurut Imam Syatibi yaitu memelihara Agama (hifdz ad-diin), memelihara Jiwa (hifdz an-nafs), memelihara Keturunan (hifdz an-nasl), memelihara Akal (hifdz al-aql), dan memelihara Harta (hifdz al-mal). (Masyhudi, 2018).

 

Melalui fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI Nomor : l07/DSN-MUIIX/2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Berdasarkan Prinsip Syariah, tanggal 1 oktober 2016, semua ketentuan umum dan akad rumah sakit syariah, harus disesuaikan dengan ketentuan syariah, berikut ketentuan dasar pelayanan, obat-obatan, makanan, minuman, kosmetika, dan barang gunaan serta dana rumah sakit syariah :

 

Ketentuan Pelayanan:

1. Rumah sakit dan semua pihak yang bekepentingan (stakeholders) wajib memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak dengan sebaik-baiknya.

2. Rumah sakit wajib memberikan pelayanan yang sesuai dengan Panduan Praktik Klinis (PPK), clinical pathway dan atau standar pelayanan yang berlaku.

3. Rumah sakit wajib mengedepankan aspek kemanusiaan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien, tanpa memandang ras, suku, dan agama.

4. Rumah sakit wajib berkomitmen untuk selalu bersikap amanah, santun dan ramah, serta senantiasa berusaha untuk memberikan pelayanan yang transparan dan berkualitas.

5. Rumah sakit wajib mengedepankan aspek keadilan, dan kewajaran dalam membuat perhitungan biaya yang akan dibebankan kepada pasien.

6. Rumah Sakit wajib memberikan pelayanan dan konsultasi spiritual keagamaan yang sesuai kebutuhan untuk kesembuhan pasien.

7. Pasien dan penanggung jawab pasien wajib mematuhi semua peraturan dan prosedur yang berlaku di rumah rakit.

8. Rumah sakit, pasien dan penanggung jawab pasien wajib mewujudkan akhlak karimah.

9. Rumah sakit wajib menghindarkan diri dari perbuatan maksiat, risywah, zhulm dan hal-hal yang bertentangan dengan syariah.

10. Rumah sakit wajib memiliki Dewan Pengawas Syariah.

11. Rumah sakit wajib mengikuti dan merujuk fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait dengan masalah hukum Islam kontemporer bidang kedokteran (al-masa’il al-fiqhiyah al-waqi ‘iyah al-thibbiyah).

12. Rumah sakit wajib memiliki panduan terkait tatacara ibadah yang wajib dilakukan pasien muslim (antara lain terkait ketentuan tata cara bersuci dan shalat bagi yang sakit).

13. Rumah sakit wajib memiliki panduan terkait standar kebersihan rumah sakit.

 

Ketentuan terkait penggunaan obat-obatan, makanan, minuman, kosmetika, dan barang gunaan:

1. Rumah sakit wajib menggunakan obat-obatan, makanan, minuman, kosmetika, dan barang gunaan halal yang telah mendapat sertifikat Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI);

2. Apabila obat yang digunakan belum mendapat sertifikat halal dari MUl, maka boleh menggunakan obat yang tidak mengandung unsur yang haram;

3. Dalam kondisi terpaksa (dharurat), penggunaan obat yang mengandung unsur yang haram wajib melakukan prosedur informed consent. (persetujuan tindakan medis) yaitu persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien.

 

Ketentuan terkait Penempatan, Penggunaan dan Pengembangan Dana Rumah Sakit

1. Rumah sakit wajib menggunakan jasa lembaga keuangan syariah dalam upaya penyelenggaraan rumah sakit, baik bank, asuransi, lembaga pembiayaan, lembaga penjaminan, maupun dana pensiun;

2. Rumah sakit wajib mengelola portofolio dana dan jenis-jenis asset lainnya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah;

3. Rumah sakit tidak boleh mengembangkan dana pada kegiatan usaha dan/atau transaksi keuangan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.

4. Rumah sakit wajib memiliki panduan pengelolaan dana zakat, infaq, sedekah, dan wakaf.

Ketentuan dasar ini dikembangkan dalam bentuk Sertifikasi Rumah Sakit Syariah, yang dibagi dua kelompok yaitu kelompok Standar yang mengatur pada aspek manejemen dan kelompok standar yang mengatur pada aspek pelayanan rumah sakit syariah. “Untuk menjadi rumah sakit syariah, setidaknya ada 51 persyaratan standar serta 173 elemen penilaian”.

 

Tantangan rumah sakit syariah

Tentunya masyarakat ingin berobat ke rumah sakit syariah, namun jumlah rumah sakit syariah sampai hari ini masih terbatas, baru ada puluhan rumah sakit syariah, diantaranya RS Islam Sultan Agung Semarang, RS PKU Muhammadiyah Wonosobo, RS Amal Sehat Wonogiri, RS PKU Muhammadiyah Jogyakarta, RS PDHI Jogyakarta, RS Haji Jakarta, RS Sari Asih Ciledug, RS Arrahmah Tangerang, RS Islam Jakarta, RS Islam Malang dan RS Islam Muhammadiyah Lamongan. Padahal menurut data Depkes tahun 2016 terdapat 2.623 rumah sakit di Indonesia.

 

Artinya sebagian besar rumah sakit belum tersertifikasi syariah, untuk itu perlu sosialisasi, agar pihak rumah sakit tergerak untuk mengurus sertifikasi syariah. Saat yang sama rumah sakit yang sekarang sudah mendapat sertifikasi syariah, mampu membuktikan kinerja yang jauh lebih baik dan menguntungkan. Saat yang sama masyarakat menyadari dan mendukung bahwa berobatpun juga bagian dari ibadah dan perlu memilih tempat yang tepat.

 

Rumah sakit syariah sudah dimulai, dan industri ini mempunyai prospek cerah, akan semakin banyak pimpinan rumah sakit dan masyarakat yang tersadarkan bahwa rumah sakit syariah diperlukan. Dibutuhkan sumber daya, maka mulailah membahas topik rumah sakit syariah di kampus, seminar, workshop, perbanyak penelitian, sempurnakan standar yang telah ada, secara bertahap dan pasti akan menyebar ke masyarakat.

 

Semoga bermanfaat.

 

 

Referensi:
1. Fatwa DSN MUI No: l07/DSN-MUIIX/2016 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Rumah Sakit Berdasarkan Prinsip Syariah
2.Novita Intan, Budi Raharjo, 10 rumah sakit akan mendapatkan sertifikasi syariah, https://www.republika.co.id, Jumat 09 Februari 2018 05:07 WIB
3. Laporan akuntabiltas kinerja instansi pemerintah, kementerian kesehatan RI 2016.
4. Dan berbagai referensi lainnya yang relevan.

 

 

 

Pj Editor: Wadek III, Sulhendri SE., MSi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *