Oleh : Jaharuddin

Dosen Ekonomi Islam FEB UMJ

 

Dengan jumlah mahasiswa 3.954 orang, salah satu fakultas universitas swasta di Jakarta, mampu menjalankan aktivitas pendidikan dengan baik, semakin banyak mahasiswa semakin besar pendapatan. Tak bisa dipungkiri, membangun pendidikan berkualitas, membutuhkan biaya yang besar, dibutuhkan biaya membangun gedung yang layak, sarana prasarana pendidikan. Untuk mempertahankan dosen berkualitas tinggi, diperlukan gaji dan fasilitas dosen dan tenaga kependidikan yang layak, serta berbagai biaya lainnya. Akhirnya pilihan universitas adalah memperbanyak mahasiswa, dan meningkatkan biaya. Faktanya sekitar 90-an% pendapatan, berasal dari mahasiswa, apakah ini sehat untuk jangka panjang?. Bagaimana jika jumlah mahasiswa turun, sementara fixed cost sudah terlanjur tinggi?

 

Begitu juga dikampus negeri, di Universitas Indonesia (UI). Mahasiswa UI dijadikan sumber pendanaan utama kampus dengan presentase pendapatan dari mahasiswa sebanyak hampir 60% dari total anggaran pendapatan pada 2015. Coba bandingkan dengan bantuan anggaran dari negara dalam bentuk Bantuan Pendanaan Perguruan Tinggi Negeri (BPPTN) ke UI yang hanya berjumlah 24% dari anggaran pendapatan UI pada tahun yang sama. Pendapatan UI yang menitikberatkan pada mahasiswa menjadi sinyal berbahaya bagi peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. (Izzudin Al Farras Adha, 2017).

 

Pendidikan dan kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia modern, permintaan terhadap pendidikan dan kesehatan akan selalu meningkat, jika sektor pendidikan dan kesehatan diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, maka yang terjadi adalah pemilik modal melihat sektor pendidikan dan kesehatan dengan pendekatan bisnis, ada peluang bisnis yang mengiurkan pada sektor pendidikan dan kesehatan. Pemilik modal investasi menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan dengan kualitas terbaik, dengan logika bisnis, bisa dihitung return of investment, menghasilkan harga yang semakin hari semakin tak terjangkau oleh kebanyakan orang terutama kelas menengah dan bawah secara ekonomi.

 

Ada kualitas, ada harga, jika ingin pendidikan berkualitas, orang tua harus berani mengeluarkan uang yang tinggi. Jika ingin pelayanan kesehatan berkualitas tinggi, maka pasien merogoh kantong dalam-dalam, persepsi umum yang terbangun, dengan mensasar segmen pasar menengah dan atas, maka berdirilah kampus berbiaya mahal dan rumah sakit mewah dipenjuru kota besar. Jika mau bayar mahal, silakan datang, jika mau murah gunakan fasilitas pemerintah, seperti sekolah negeri dan BPJS di rumah sakit. Fenomena jamak, yang sebetulnya belum tentu benar.

 

Mungkinkah suatu hari pendidikan swasta berbiaya terjangkau, mahasiswa tidak lagi menjadi sumber pendapatan utama?, dan kesehatan juga berbiaya murah, fasilitas pendidikan dan kesehatan terus bisa ditingkatkan, akademisi serta pekerja dunia kesehatan tetap dibayar layak?. Lah, kan saat ini pendidikan, untuk sekolah negeri sudah gratis, kesehatan juga demikian, sudah ada BPJS. Amankah untuk jangka panjang?, jika pemerintahnya berubah, bisa berubah pula kebijakannya?, bukankah idealnya pendidikan minimal sampai Strata 1 (S1).

 

Tulisan ini, mencoba menggali alternatif solusi, melengkapi yang telah dilaksanakan pemerintah, dengan memanfaatkan wakaf uang sebagai instrumen, diaplikasikan pada dua sektor dasar kebutuhan masyarakat, yaitu pendidikan dan kesehatan.

 

Wakaf dan Wakaf Uang

Wakaf berasal dari kata “Waqf” yang berarti “al-Habs” maknanya menahan, berhenti, atau diam. Apabila kata tersebut dihubungkan dengan harta seperti tanah, binatang dan yang lain, ia berarti pembekuan hak milik untuk faedah tertentu (Ibnu Manzhur). Menurut Imam Abu Hanifah, wakaf adalah menahan suatu benda yang menurut hukum tetap menjadi milik si wakif (yang berwakaf), namun manfaatnya dipergunakan untuk kebajikan demi kemaslahatan umat. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa wakaf itu tidak melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif, namun wakaf tersebut mencegah wakif melakukan tindakan yang dapat melepaskan kepemilikannya atas harta tersebut kepada orang lain dan wakif berkewajiban menyedekahkan manfaatnya serta tidak boleh menarik kembali wakafnya.

 

Wakaf mempunyai keunggulan, diantaranya : (1). Ibadah yang terus mengalir pahalanya walaupun yang berwakaf sudah meninggal. (2). Ibadah yang para sahabat berlomba-lomba untuk melaksanakanya. (3). Menjadi dana abadi yang terus bergulir dan jika dikelola maka terus bertambah. (4). Hasil investasinya bisa menjadi operasional pendidikan dan kesehatan, serta dana kebaikan lainnya.

 

Zaman kontemporer ini juga dikembangkan wakaf uang. Wakaf uang atau Cash Wakaf/Waqf al-Nuqud adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai. Diantara keunggulan wakaf uang, yaitu memungkinkan segenap lapisan masyarakat untuk berwakaf, relatif mudah, memiliki potensi yang tak terhingga, dan zero cost of fund.

 

Implementasi Wakaf uang untuk dana abadi Pendidikan

Implementasi wakaf pada dunia pendidikan bukanlah informasi baru, di dunia islam sudah sangat lama dilakukan, sebagai contoh Universitas tertua di dunia yaitu Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, yang telah dibangun sejak dinasti Fathimiyah pada 970 masehi, adalah contoh nyata hasil pengelolaan wakaf dari masyarakat mesir secara terus menerus. Begitu pula di Turki, praktik wakaf pada masa kekhalifahan Ottoman. Pada masa tersebut, banyak sekali fasilitas umum dibangun berdasarkan praktik wakaf dalam upaya memacu pembangunan sosial dan ekonomi, seperti pembangunan madrasah/sekolah, darussyifa/rumah sakit, imaret/dapur umum, hamam/pemandian umum, hingga tabhane/penginapan. Bahkan sampai sekarang masih terdapat bangunan hasil wakaf masa kekhalifahan Ottoman, yaitu saluran air dan masjid Fatih di kota Istanbul, Turki.

 

Wakaf yang dalam bahasa inggris diartikan sebagai endowment bukanlah barang baru di pendidikan tinggi seluruh dunia. Harvard University di Amerika Serikat yang merupakan pengelola academic endowment terbesar di dunia memiliki nilai endowment lebih dari 35 miliar dolar AS pada 2016. Jumlah endowment kampus tersebut sangat besar dan menjadi penopang pemasukan kampus terbesar dengan presentase 36% dari total penerimaan. Di Indonesia perguruan tinggi yang terbaik dalam mengelola endowment fund (dana abadi/dana lestari) adalah Institut Teknologi Bandung (ITB). ITB menyandang predikat terbaik di Indonesia sejak 2007 untuk pengelolaan endowment fund yang memiliki total dana dikelola per 31 Desember 2014 adalah sebesar Rp 113 miliar dengan presentase 8,75% dari total penerimaan (Izudin al Faraas adha, 2017).

 

Terdapat perbedaan antara endowment dengan wakaf, salah satu yang mendasar adalah wakaf adalah milik Allah, wakaf hanya boleh diinvestasikan dan dikelola dengan konsep Islam, dengan memenuhi kaidah-kaidah Islam. Endowment, dimiliki oleh foundation (Yayasan), pengunaannya bebas sesuai pengelolanya. Dengan demikian wakaf lebih sempurna dibanding endowment, maka jangan ragu untuk mengunakan wakaf sebagai alternatif pembiayaan pendidikan.

 

Para pengeloa pendidikan hendaknya bersungguh-sunguh mempelajari, memahami dan berkeinginan kuat untuk implementasi wakaf dilembaganya masing-masing. Wakaf dalam dunia pendidikan adalah khazanah islam yang terabaikan dalam sistim pengelolaan pendidikan ditanah air, malah dimanfaatkan oleh kampus-kampus besar didunia, dengan konsep endowment.

 

Mulailah para pimpinan lembaga pendidikan dari bawah sampai perguruan tinggi, membentuk tim kajian dan implementasi wakaf sebagai dana abadi pembiayaan pendidikan, dengan cara seperti itu masyarakat berharap kampus mandiri secara keuangan, mapan memberikan fasilitas terbaik bagi mahasiswanya, dan mendanai operasionalnya, tanpa harus menjadikan mahasiswa sebagai sumber pendapatan utama, dengan demikian suatu hari masyarakat boleh berharap biaya kuliah tidak naik setiap tahun, terjangkau bagi masyarakat.

 

Implementasi wakaf uang untuk dana abadi Kesehatan

Setelah keberhasilan dua rumah sakit berbasis wakaf yaitu RS Rumah Sehat Terpadu di Parung, Bogor dan RS AKA Medika Sribhawono di Lampung Timur, Dompet Dhuafa kembali mencanangkan pembangunan rumah sakit berbasis wakaf. Kali ini Dompet Dhuafa bekerjasama dengan Badan Wakaf Indonesia membangun Rumah Sakit Wakaf khusus mata pertama di Indonesia, yaitu fasilitas kesehatan yang diberi nama RS Mata Achmad Wardi, berdiri di atas tanah wakaf dari keluarga Achmad Wardi yang diamanahkan kepada BWI dan Dompet Dhuafa di Kecamatan Taktakan, Serang, Provinsi Banten (www.dompetdhuafa.org, www. nasional.tempo.co).

 

Implementasi wakaf sudah dimulai dibidang kesehatan, dan perlu diperbanyak contoh-contoh nyata, bahwa wakaf bisa diterapkan dengan efektif dan menjadi solusi pembiayaan kesehatan. Pemanfaatan aset wakaf bisa digunakan untuk kesehatan, saat yang sama digalang wakaf uang untuk menjadi dana abadi pembiayaan kesehatan.

 

Penerapan wakaf untuk kesehatan, bisa berbentuk pengumpulan wakaf uang, kemudian langsung dibelikan atau diinvestasikan untuk perlengkapan kesehatan. Dan juga sangat penting adalah mengumpulkan wakaf uang untuk dana abadi pembiayaan kesehatan. Pola kedua ini adalah wakaf uang dari masyarakat dikumpulkan, dikelola, diinvestasikan, hasil dari investasi wakaf uang inilah yang menjadi dana pembiayaan kesehatan, salah satunya untuk pembiayaan operasional rumah sakit.

 

Sama halnya dengan pendidikan, pimpinan rumah sakit, serius mempelajari, memahami dan menguatkan tekad untuk menerapkan wakaf uang untuk dana abadi kesehatan, maka masyarakat berharap suatu hari biaya kesehatan menjadi terjangkau, tidak harus naik setiap tahun. Alangkah tragisnya masyarakat, jika pendidikan mahal tak terjangkau, biaya rumah sakitpun mahal, maka dengan pendekatan wakaf uang masyarakat mulai mendapatkan lentera bahwa islam menjadi solusi bagi kehidupan melalui wakaf.

 

Agenda Strategis

Agenda strategis pengembangan wakaf yakni penyiapan sumber daya pengelola (Nadzhir) wakaf yang professional, sayangnya lembaga pendidikan belum banyak tergerak untuk menyiapkan nadzhir professional. Sepertinya belum ada program studi khusus yang menyiapkan tenaga nadzhir professional. Banyak faktor penyebabnya, salah satunya, minimnya sosialisasi wakaf secara professional dan terencana berakibat, minimnya orang yang berminat membahas serius mengembangkan wakaf, kalaupun ada program studi wakaf, bisa jadi mahasiswa juga belum tentu berminat. Beda jauh dengan perbankan syariah dan keuangan syariah serta bisnis syariah.

 

Perguruan tinggi hendaknya mengambil peran strategis penyiapan nadzhir professional, bergandengan tangan dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI). BWI diberi amanah oleh regulasi untuk mengembangkan nadzhir professional, jika daya jangkau BWI masih terbatas, maka bekerjasamalah dengan perguruan tinggi, untuk mencetak tenaga nadzhir professional, dimulai dari seminar, workshop, sertifikasi dan pendidikan terencana. Jika nadzhir professional tersedia dengan cukup, kita bisa menaruh harapan pengembangan wakaf, tidak hanya potensi, namun riil bermanfaat bagi masyarakat. Aaamin.

 

Referensi:
1. Izzudin al Faraas Adha, 2017, Menakar Potensi wakaf untuk pendidikan tinggi di Indonesia, https://www.republika.co.id.
2. Sebelas kampus top dunia didanai uang “wakaf”, 2016, https://www.republika.co.id
3. Dompet Dhuafa akan bangun kembali rumah sakit berbasis wakaf, https://www.dompetdhuafa.org
4. Elik Susanto, 2018, Rumah sakit khusus mata ini dibangun di atas tanah wakaf, https://nasional.tempo.co
dll.

 

 

Pj Editor: Wadek III, Sulhendri SE., MSi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *